|
|
Ya Tuhan, I Do, Sumprit!
Malam ini hanya ada 2 bintang di langit.
Kasihan juga bintang-bintang itu, cuma tampil berdua di panggung hitam kosong dipandangi ratusan pasang mata orang-orang kasmaran di separuh bagian bumi yang lagi kebagian malam. Atau mungkin aku saja yang terlalu mendramatisir…mungkin cuma aku sendiri yang sedang memandangi mereka. Bahkan separuh jiwaku itu mungkin juga sedang tidak memandangi mereka, karena kelopak matanya sedang menutup mencariku dalam mimpinya.
Sebenernya apa romantisnya sih bintang-bintang? Apanya yang menyenangkan dari memandangi titik-titik kuning kecil dan tak terjangkau di lembaran hitam yg bahkan tidak benar-benar sedang berkedip-kedip?
Mungkin memang ini karena rasa hangat dan glodak-glodak di dada yang membuat semua jadi terlihat lain dan menyenangkan. Bahkan ketika kemarin malam tidur dan mimpi indahku tentangnya terganggu suara jeritan kucing-kucing kurap di depan rumah kost yang lagi kejar-kejaran mau kawin, aku bukannya marah dan melempari pakai sepatu…bapak Kost. Tapi aku malah senyum dan sesekali tepuk tangan sambil salto menyemangati si kucing yang cowok…sebelum akhirnya aku yang lari ngumpet masuk kamar karena Bapak Kost keluar bawa seember air.
Karena yang aku lihat itu bukan dua kucing berisik yang nggak tahu adat dan toleransi menghormati orang lagi tidur…melainkan 2 kekasih yang lagi kasmaran kejar-kejaran seperti di film India. Lari muter-muterin tiang listrik, sembunyi di balik tong sampah, sambil nyanyi sahut-sahutan “..meooonngg…hrrr…meong…glonthang…”.
Betapa terlihat romantisnya mereka. Ya, dan betapa terasa nggilani-nya aku.
“Meooonnng…meong..meong…meooonggg..!!”, kata kucing yang cewek sambil lari-lari kecil megal-megol. Mungkin artinya “kejarlah daku, mas Joko, kau kutangkap….”.
Ya Tuhan, mungkin benar begitu….mungkin rasa hangat di dadaku yang Kau timbulkan dengan “ada”-Mu itu yang bikin semua kelihatan lain dan menyenangkan di mataku.
Ketika hidup semakin terasa menambah berat beban di kaki, dan ketika warna pelangi yang kupandangi di langit sehabis hujan semakin terlihat bagaikan baju yang terlalu sering di cuci, dengan hanya memandangi atau melafalkan nama Mu saja cukup menenangkan dan membawa nyaman. Aku sanggup berdiri dan berlari lagi. Aku bisa temukan lagi pelangi lain yang masih bersinar dengan warna yang asli…. dalam mata sejuk bidadari.
Sayangnya kata-kata yang keluar selalu gagal menjadi kurir yang menyampaikan atau menjadi juru cerita yang bisa menggambarkan sedikit saja betapa mengingat Mu selalu berhasil menarik otot-otot bibirku naik ke atas. Kau selalu bisa bikin aku senyum terus, sumringah terus.
Ya…ya, sayangnya Words always fail me. Apalagi ketika kata masih hanya mampu berambigu. Memang kadang ketika kita tertawa dalam ambigu yang terdengar bisa seperti sedang mengeluh kesel. Aku sedang bahagia pun dikira lagi kesel. Dulu memang aku jawara diam. Dan mungkin memang hangat ini terasa lebih berkobar-kobar ketika kita tenggelam dengan diam. Ketika kita “berhadap-hadapan”.
Ya Tuhan, bagaimana lagi bisa aku katakan…bahwa demi semua gelepar di dada, Benar-Benar Kau Selalu Berhasil Bahagiakan Aku, Benar-Benar Kau Selalu Berhasil Menyenangkan Aku. Sumprit!
Ya Tuhan, Aku Cinta Pada Mu Dengan Cara Yang Aku Tahu. Dan AKu Tahu Kau Sayang Aku Dan Nggak Mau Bikin Aku Sedih. Betapa pun lucunya keadaan sekarang….Mungkin Aku Dan Kau Memang Susah Saling Menjangkau, tapi aku nggak menyalahkan keadaan yang Tuhan rancang dengan indah. Ya, ini anugrah juga. Karena Sebenarnya Kita Begitu Dekat. Dan Dekat Dengan Mu Adalah Kesenangan Juga Bagi Ku.
Ya Tuhan, bagaimana lagi bisa aku sampaikan…bahwa demi semua geliat harapan di jiwa…Aku Cinta Pada Mu. Teruslah Begitu, Hangatkan Aku, Nyalakan Api Ku. Aku Butuh Cahaya Mu Selama Menunggu Waktu Ku Di Situ.
Aku Tahu Kau Bisa Mengerti Jauh Melampaui Kata-Kata Ambigu Ku.
* * * * *

depan jendela, 20102009 01:15
Silahkan kalau mau ikutan komentar dan diskusi di sini, atau cuma mau subscribe ke RSS website ini.



*huaaaah tulisannya bagus banget!
salam kenal yaa