Sepi Dalam Keramaian


 

18 Sept 2009 menjelang sahur

Di kost

Temenku si Jhe pulang dari kerja mampir ke kamar kost ku.

“Kok skarang sering nglamun, ada apa? Ayo ntar ikut aku kita saur keluar. Jangan di kamar aja!”

Aku tutup buku gambarku walau belum selesai menggambar.

“iya, Jhe, ayo. Jadi ke A. Yani aja ya. Barangkali….”

“Barangkali apa?”

“Ndak apa-apa..”

Aku terusin kata-kataku yang tertahan tadi dalam hati, lalu senyum sendiri.

Dan kita pun berangkat sekitar jam 2.

Di tempat makan di A. Yani

Sejak di parkiran dan jalan menuju tempat pesan makanan banyak yang ngliatin kita berdua, aku dan temenku. Yang mencurigakan, semua yang ngliatin adalah berjenis kelamin cowok semua. Atau yang mirip-mirip cowok. Yang cewek cuek-cuek aja dan gak peduli.

“Jhe, tak gandeng yo tanganmu, sekalian”

“Diamput!” kata Jhe dengan pandangan jijik sambil ngakak.

Tempat makan ini penuh sekali. Tapi terasa sepi, mataku masih menjelajahi setiap sudutnya.

Sambil antri aku dan temanku ngobrolin macem-macem, kerjaan, negara, noordin m. top atau ngomentari orang-orang yang lewat. Tapi mataku gak pernah lepas dari pelataran parkir….mencari-cari sesuatu.

“Lihat Pen, dunia memang gak adil ya” kata Jhe sambil nglirik seorang cewek langsing dan keliatan rapi terawat masuk sama seorang cowok gendut, gak sisiran, kumel, kucel, dan hidup.

“Kenapa Jhe? Karena cewek itu cakep, tapi cowoknya kayak teh botol?”

Kita ngakak lagi. Tapi mataku tetap mencari-cari ke parkiran.

“Iya Jhe, kadang you cannot loose a girl because of chasing money, but you can loose money because of chasing a girl”

Jhe manggut-manggut.

“Mungkin perempuan memang ditakdirkan lebih memilih stabilitas masa depannya”

Selama makan sampai selesai mataku terus berkeliling melihat ke parkiran. Masih sepi dalam keramaian.

Selesai makan, aku nyalain sebatang rokok yg dari tadi cuma aku lihat aja.

“Susah yo Pen mau brenti total rokok an?”

“Mungkin, atau aku aja yang emang susah mau bercerai dengan rokok, kita sudah berteman sejak aku kelas 5 SD, aku dan rokok”

Tapi saat itu mungkin aku merokok bukan karena itu. Dadaku lagi terasa sesak disumbat kangen yang menjelaga. Mungkin aku cuma sekedar ingin mencari bayangnya di antara kepulan asap rokok. Mungkin aku cuma ingin menjejali dadaku dengan asap, karena sesak di fisik bisa diobati, sesak hati aku gak kuasa menghiburnya. Yah, alasan yang bodoh. Aku tahu.

Sampai imsyak, Jhe ngajak balik. Aku tinggalin parkiran tempat makan ini, berhenti berharap yang ditunggu akan muncul di situ. Begitu ramai di situ. Begitu sepi.


….


 

Silahkan kalau mau ikutan komentar dan diskusi di sini, atau cuma mau subscribe ke RSS website ini.

Cas Cis Cus

Alur cerita yang sangat enak dicerna dan menyentuh hati…
Kenapa bakat ini tidak dikembangkan menjadi seorang penulis profesional aja mas?
Kan ada buannyak waktu untuk anda walaupun anda saat ini bekerja di kantor… kerja di kantor bukan berarti anda sibuk full day 8 jam penuh kan?
Ayo mas…. kembangkan jadi novel pendek atau semacamnya …

anyway anda sangat romantis banget ya… tapi keliatannya jarang mandi ya :-)

bwahahahahahahahahahaha…

blogwalking yg berakhir nguekek puwol

to sing duwe : thanks eniwei hehehe…

bwahahahahahahaha…..

Ceritae apik pen.. seru pisan trutama pas km pgn nggandeng tangane jhe… hehehe..

jhe yo sok jaim pake ga mau gandengan tangan, pdhal dlm hati yo mau-mau ae wakakakaa…. (kidding) :P

But..Tapi….cerita ini haruse blom berakhir, coz masih ada misteri yang blom terungkap.. Nunggu ‘apa’ kamu pen di parkiran..? nunggu mangsa ta hehehe…

Tapi (lagi), judul diatas mencerminkan suasana dan kondisi hati pd saat itu… yup ‘sepi dalam keramaian’ ehmm..

Naice Bro.. lanjutkan menulisnya. :)

~van~

Leave a comment

(required)

(required)