Tuesday, January 6, 2009

TriEffendi.com

Pengepul informasi penting dan tidak penting…

Download MP3 Gratis  
 

Romantis-Sialan !

Posted by Pen the Man On May - 20 - 1999

Aku bengong di depan deretan tanaman dalam toko kembang di Jalan Kayun itu.

“Bisa saya bantu, mas?”
“eh…ng…anu…mau beli kembang mawar…”
“Sebesar apa?” tanya mas-mas tukang kembang lagi.

Aku diam. Hasrat membeli bunga memang udah lama beredar dalam kepala, tapi aku gak sempat mbayangin bentuk rangkaian mawarnya bakal kayak apa. Akhirnya aku cuma bikin  isyarat pakai tangan yang melukiskan ukuran. Si mas mengangguk.

“Perlu sepuluh tangkai. Gimana?”
“Boleh…”
“Mau mawar yang jenis apa, mas?”

Yaaah, dia nanya lagi. Aku bingung. Ada mawar merah api, merah hati, merah bara, merah darah, pink, putih. Aku gak tau mesti pilih yang mana. Aku memang awam soal kembang. Selama ini yang kukenal cuma kembang-campur berbungkus daun pisang buat kuburan Ayah. Akhirnya, biar gak terlalu kliatan tolol dan memalukan, aku bilang : “Terserah Mas aja lah”

Aku terus duduk sambil mengkhayal :
Seorang cowok ganteng dateng ke rumah seorang cewek manis dan di balik punggungnya menggenggam seikat kembang merah. Si cewk mbuka pintu dan… surprise! Cewek terharu dan memeluk si cowok. Setelah itu, mereka hidup bahagia selamanya. Seperti biasa.

Si mas akhirnya selesai juga merangkai kembangku. Kulihat seklompok mawar yang ada butir-butir air bening di kuntumnya: begitu segar, begitu menggoda, dan kelihatan seperti senjata ampuh. Hatiku luluh, senyumku mengembang. Begitulah. Aku ternyata gak berdaya di hadapan bunga-bunga.

“Berapa, Mas?”
“Empat puluh ribu saja.”
Glek!

Tenggorokanku tiba-tiba kering sekali. Empat puluh ribu saja katanya? Itu sama dengan seluruh isi dompetku, sisa duit makan bulan itu. Segerombolan kembang jelek merah lembab itu ternyata senilai sepuluh piring nasi pecel kampung yang bisa nyambung hidupku selama beberapa hari. Sejak cari duit sendiri dan coba mandiri merantau di Surabaya, aku membiasakan diri makan dua kali saja sehari, siang dan malam, biar duitnya bisa tahan sampai akhir bulan.

Kekagetanku yang nyaris kampungan kelihatan juga oleh si mas tukang kembang. Matanya kayak nahan ketawa. Aku jadi gugup. Cepet-cepet rangkaian kembang merah kumasukin ke dalam ransel. Soalnya jalan sambil menenteng buket mawar di pinggir jalan berdebu tentu sangat norak dan memalukan. Dengan perasaan gak karuan aku ngabur dari situ.

Di pinggir jalan aku bengong nunggu bemo sambil ngorek-ngorek dompetku yang ludes. Di kantong masih ada dua lembar ijo seribuan, lumayan, cukup buat naek bemo ke rumahnya + beli permen. Bagaimana pulangnya, itu soal nanti. Kalau perlu, aku jalan kaki. Delapan belas kilometer gak ada artinya demi semua gelepar dalam dada, demi sisa duit yang telanjur dibelikan bunga.
Kembang di ransel kelihatannya ada yang nyembul keluar sedikit. Tukang becak di sebelahku menyindir sambil senyum-senyum: “Lagi kasmaran ya, Mas? He..he..he…” Huh ! Senyumnya tengil!

*******


Bemo menurunkan aku dekat mulut Jl. Progo.

Dengan jidat penuh keringat sampai juga aku di teras rumahnya. Di depan pintu rumah itu, amboi, bakal berlabuh juga akhirnya semua detak jantung yang udah bikin aku gila, semua lamunan yang menyesakkan dada, semua rindu yang kosong dan dingin menyiksa. Dan terbuka juga akhirnya pintu yang telah lama aku pandangi, lama aku ketok-ketok itu, dan muncullah dia…….babunya!

“Si non sekeluarga sudah berangkat ke Ujung Pandang” katanya. Hatiku mengkeret.
“Kapan balik?”
“Mungkin minggu depan, tapi kalau si Non kayaknya menetap di sana ikut suaminya”

Suami ????
Dobol! Jadi juga ternyata dia dijodohin. Hari gini masih ada kayak beginian!

“Mas ini siapa? Kalau ada pesan, atau titipan, nanti bisa saya sampaikan.”
Babu baru itu belum mengenal aku. Pembantu yang satunya lagi udah bosen lihat tampangku. Selama ini aku sering dateng ke sini pakai 1001 alasan yang dibikin-bikin, sekadar untuk bisa ngobrol selama mungkin dengannya, ndengerin suaranya, atau sesekali melirik wajahnya. Dia jadi muak. Pembantunya yang lama pun ikut muak.

Gak kujawab pertanyaan pembantu baru itu. Percuma. Aku lalu pamit.
Aku memang terlalu, seperti pengemis yang gigih dan tak tahu malu.
Di got depan gang rumahnya aku buang rangkaian mawarku, lambang kedegilan dan kegersangan hatiku. Terbayang berderet-deret piring nasi pecel di kepalaku……

Ikutan komentar??

   (optional, kalau belum punya icon avatar sendiri bisa daftar di sini gratis)

Apaan sih?

     
    Ini tentang seorang kapiten lelaki tulen biasa yang berusaha berjuang untuk menjadi luar biasa...atau minimal tidak menjadi sekedar orang biasa-biasa saja. Disini semua usaha coba bermula, di sini tempat cerita akan bermuara. Just a simple place to share a little something of love, life, and my dreams.

    Read More