|
|
Email Kakakku (II)
Athens, Rabu 16 Juni 2004
Aku baca suratmu. Aku bisa merasakan keprihatinan kamu hidup sebagai mahasiswa di Surabaya. Perjuangan kamu menghadapi rewelnya dosen pembimbing tugas akhir. Perjuangan kamu menghadapi kurangnya uang makan. Bagaimanapun, aku bangga karena kamu berjuang. Kamu tidak menyerah.
Perhatian kamu kepada Ibu dan adik kita Putri juga sangat mengharukan. Kamu sayang kepada mereka. Aku bersyukur karena itu. Hidup ini aneh, Tri. Kita sekarang berpencar seperti ini. Mencari apa sesungguhnya? Mencari perbaikan nafkah. Agar kekuatan ekonomi kita sebagai keluarga semakin besar, sehingga kita bisa saling menopang. Kakakmu Eddy terpaksa harus merantau ke Jakarta, sebab keahlian dia hanya laku di Jakarta. Di Surabaya, gaji yang diterimanya nggak akan berarti sama sekali. Hanya cukup untuk ongkos dan makan sehari-hari. Namun, dengan bekerja di Jakarta, dia bisa menghidupi diri sendiri, istrinya, sekaligus Ibu, kamu, dan Putri.
Sejak kecil sampai tua, Ibu selalu menderita. Selalu prihatin. Aku sekolah sampai ke Amerika supaya Ibu bangga bahwa meskipun dia melarat, meskipun pendidikan dia rendah, meskipun rumah tangganya pernah morat-marit, tetapi dia telah berhasil membesarkan anak-anaknya. Jadi, agar Ibu merasa bahwa penderitaannya selama ini tidak sia-sia.
Aku tersenyum sekaligus trenyuh membaca cerita kamu bagaimana kamu berjuang menahan lapar sebagai mahasiswa. Sampai-sampai kamu sakit maag. Aku merasa bersalah karena itu. Kakak macam apa aku ini kok adiknya sampai kelaparan seperti itu?
Aku bangga dengan kamu. Sebagai laki-laki, kamu punya martabat. Aku ingat bagaimana dulu kamu sering menolak uluran bantuan dari aku dan Nur. Aku tidak tersinggung. Aku mengerti alasan-alasanmu. Kamu berusaha berjuang sendiri dulu. Bila kepepet, kamu baru menerima bantuan kami. Aku hormati sikapmu, Tri.
Tri, jangan pernah kapok mengadu kepadaku kalau kamu menghadapi krisis semacam ini. Kesediaanmu sekarang untuk minta tolong padaku sungguh menyentuh perasaanku. Sebab, dengan kamu minta tolong padaku, itu berarti kamu sungguh-sungguh menganggap aku kakakmu.
Aku bangga punya adik seperti kamu. Kamu keras. Banyak diam. Tapi kamu mampu menyayangi Ibu dan adik kita Putri.
Jangan pernah bosan sambat kepadaku. Jangan pernah kapok.
Jaga dirimu baik-baik Tri. Jaga keselamatanmu, jaga Ibu dan Putri. Kita harus selalu kompak. Aku nggak tahu Tuhan ada atau nggak. Tapi aku tahu bahwa kita punya keluarga.
Kakakmu,
Sony
Silahkan kalau mau ikutan komentar dan diskusi di sini, atau cuma mau subscribe ke RSS website ini.



Cas Cis Cus
No comments yet.
Leave a comment