[Cerpen-cerpen an] To Love is to Let Go, to Let Grow


 


“Bu, kalau aku daftar kuliah ke Jakarta gimana?” tanya adik perempuanku tiba-tiba.

Perempuan yang belum terlalu tua itu berhenti menyisir rambut adikku. Ibuku sebenarnya baru berusia setengah abad, tapi beban hidup dan kehilangan-kehilangan yang dialaminya telah membuat tubuh dan wajahnya lebih cepat tua beberapa tahun daripada jumlah umurnya. Bibir Ibu yang tadi melengkung ke atas membentuk senyum yang manis setelah barusan bercanda dengan adikku perlahan lengkungnya berubah turun membentuk garis datar. Setelah sempat diam beberapa saat, Ibu menjawab sambil menunduk dan tangannya meneruskan menyisir rambut adikku.

“Ya gak apa apa, kalo emang pengen ya harus usaha yang serius. Jangan nge-game aja. Kepengen thok ndak usaha serius ya percuma”

“Ibu gak apa apa tha ntar sendirian di rumah?”

“Gak apa-apa, tiap pagi seharian kamu sekolah ya Ibu sendiri…”

Adikku diam. Aku diam. Ibu diam. Hanya ada suara TV yang entah sedang acara apa.
Sebenarnya kita bertiga masih sedang saling berbicara dengan susah-payah saat itu, dalam diam. Silence is the hardest art of communication.

Sekitar tengah malam ketika aku masih membaca buku menunggu kantuk, aku denger suara dari kamar Ibu. Aku datangi, dan di sana Ibu lagi duduk diatas sajadah. Aku cuma bisa memandangi punggungnya yang bergoyang pelan. Tapi kelihatan sajadah yang basah. Dia menangis. Sempat aku dengar Ibu sedang berdoa agar adikku dikabulkan keinginannya kuliah di UI. Dia menangis. Aku tutup lagi pelan-pelan pintu kamar Ibu. Ambil rokok dan pergi jauh-jauh dari kamar Ibu. Mungkin memang harusnya aku datangi Ibu dan memeluk pundaknya. Tapi aku hanya tak ingin mengecewakan almarhum Ayah yang dulu mengajari bahwa laki-laki harus kuat. Sedang aku tak pernah kuat melihat Ibu ketika seperti itu. Aku harus menjauh.

Beberapa hari berikutnya aku merasa perlu pulang setiap hari. Dan setiap sekitar tengah malam masih kudengar suara sesungukan dari kamar Ibu. Setelah aku tengok sebentar di kamarnya, aku masih memilih buat pergi duduk di teras menghabiskan beberapa batang sigaret dengan alasan yang sama, berusaha menjadi sok kuat.

Semua tahu betapa Ibu sayang sekali dengan adik perempuanku. Ketika Ayah meninggal, rasa cinta Ibu yang masih berlimpah buat Ayahku dialihkan semua ke adikku. Ibu pasti tahu suatu saat adikku pun akan keluar dari rumah mengikuti jalannya. Ketika ketiga anak laki-lakinya satu persatu keluar dari rumah meniti jalan sendiri-sendiri demi kewajiban dan tanggung jawab sebagai lelaki, di rumah memang tinggal adikku dan Ibu. Hanya berdua. Setiap hari hanya berdua. Sedang aku pulang hanya sekali atau dua kali seminggu.

Memang setiap pagi adikku selalu pergi ke sekolah meninggalkan Ibu sendiri di rumah, tapi Ibu tahu dia hanya perlu menunggu tak terlalu lama. Sebab sore hari Ibu akan bisa ketemu adikku lagi ketika dia pulang dari sekolahnya.

Setelah adikku benar-benar lulus seleksi penerimaan mahasiswa dan berangkat ke Jakarta, aku masih merasa perlu pulang setiap hari betapa pun capeknya naik motor menempuh perjalanan pulang-pergi Surabaya – Gresik. Setiap malam adikku aku telpon dan membiarkannya bicara dengan Ibu berjam-jam. Suatu malam Ibu pernah bertanya padaku.

“Kamu kok gak keliatan berat adikmu pergi?”

Aku cuma diam, karena aku juga gak tahu apa yang harus dirasa. Aku dan adikku tidak sedekat Ibu dan adikku. Atau mungkin dekat juga, hanya memang aku gak tahu apa yang harus di rasa. Sudah lama aku lupa caranya merasa.

“Ibu rela gak dia berangkat sekolah ke Jakarta?”, tanyaku.

“Ibu ya sangat rela, dan sangat mendukung keinginan adikmu. Tau khan dari dulu dia pengen kuliah di UI, dan dia mampu toh?”

“Trus kenapa Ibu nangis?”

Ibu diam sebentar sebelum dari mata lamurnya setitik air meluncur turun membelai keriput pipinya. Dia cuma menjawab dengan suara bergetar,

“Ibu ya gak tau kenapa…aku gak tau…tapi aku seneng adikmu seneng…”.

Dan aku ambil rokok lalu pergi ke teras lagi, sambil menyesali pertanyaanku tadi. Sungguh aku bertanya cuma karena tidak mengerti rasanya.

Aku gak begitu mengerti apa yang Ibu rasakan ketika tahu beberapa minggu lagi putri satu-satunya yang sangat dia sayangi itu akan pergi meninggalkannya sekolah pada suatu pagi dan tidak akan datang di sore hari meski dia terus menunggu sambil pura-pura nonton TV sampai malam. Tapi aku yakin Ibu sangat jujur saat dia bilang dia sangat rela dan mendukung keinginan adikku pergi mengejar keinginannya. Dan dia melepas adikku pergi karena rasa sayangnya, karena dia ingin melihat adikku bahagia bisa melakukan yang diinginkannya. Kalau pun awalnya Ibu terlihat hancur itu bukan berarti dia tidak senang adikku ingin pergi. Itu hanya perlu waktu. 

Barangkali rasanya seperti seorang pasien yang mengetahui bahwa waktunya tinggal beberapa bulan saja di dunia ini setelah divonis dokter bahwa penyakitnya belum ada obatnya. Memang dokter bukan Tuhan dan vonis itu cenderung hanya sebuah “mungkin”. Segala sesuatu masih “mungkin” bisa terjadi dan merubah rencana atau ramalan. Tinggal pasien-sial itu memilih mau di isi apa sisa waktu yang ada, merasa percuma tiap kali mau melakukan sesuatu lagi, atau justru diperindah seindah-indahnya tiap detik yang tersisa.

Aku bisa melihat setiap tengah malam sajadah Ibu selalu basah. Tapi aku saat itu masih belum mengerti apa yang Ibu rasain setiap kali melihat kalender dan terbayang waktunya tinggal beberapa minggu lagi bisa becanda atau berantem mulut dengan adikku.

Dan sekarang aku baru tahu rasanya….
Sekarang aku benar-benar tahu rasanya…

*  *  *  *  *  *

“…Rasa cinta yang begitu besar pada seseorang
kuwarisi dari Ibu
Tapi, kepasrahannya tidak…”


 

Silahkan kalau mau ikutan komentar dan diskusi di sini, atau cuma mau subscribe ke RSS website ini.

Cas Cis Cus

[...] See the rest here:  [Cerpen-cerpen an] To Love is to Let Go, to Let Grow | Uneg-uneg … [...]

cerita yang menyentuh hati…

sampai skrg aku masih bertanya. “Mosok pendik orange mellow..?”
tapi dari tulisan2 yang aku baca seakan ‘memaksa’ bahwa pertanyaanku itu ga perlu dijawab dan dijelaskan lagi.

Nice bro.

Yd

pendi nglamun : hidup yang memaksa jadi mellow kali ya….life is a bitch, Yud, it would be so much easier if life was a slut…i would just have to pay to get by ;)

^_^ bagus mas

:) bagus mas ceritanya

Leave a comment

(required)

(required)