|
|
Badut Ini

Subadut, su dalam bahasa Jawa artinya baik/bagus. Badut yang baik.
Aku kasih tahu sesuatu tentang badut….yang kau lihat itu bukan wajah gembira mereka. Mereka pakai topeng. Badut yang baik adalah badut yang selalu bisa membuat orang lain ketawa, minimal tersenyum tipis…sangat tipis…bagaimana pun sebenernya yang sedang dirasakan sang badut. Badut yang baik selalu berhasil menutupi isaknya dibalik make-up tebal atau topeng yang selalu tersenyum lebar….terlalu lebar…atau dibalik tingkah laku konyolnya, jungkir-balik, jatuh-bangun, kadang malah mungkin sampai menyakiti diri sendiri. Dan para penonton tertawa mungkin karena memang lucu, atau memang sifat dasar manusia ada yang bisa tertawa ketika melihat ketololan orang lain….mau-maunya menyakiti diri sendiri. Contohnya ketika teman kita jalan gak lihat-lihat dan kepalanya kejedot tiang listrik, mungkin kita malah terbahak-bahak ketika teman kita meringis menahan sakit.
Badut yang baik justru badut yang mampu membuat orang lain ketawa tanpa harus sedikit pun berkata-kata. Cukup dengan topeng dan kelakuan konyolnya saja. Selain karena kalau badut berbicara, orang akan bisa mendengar bentuk airmatanya dari parau suaranya. Juga karena badut memang tak pandai berkata-kata, tak pandai menyampaikan maksudnya lewat kata-kata. Badut sangat ahli dalam hal diam. Dan badut yang baik selalu ikut merasa senang ketika penonton tertawa senang.
Penonton cukup tertawa senang menikmati muka konyol dan kelakuan aneh sang badut, tanpa perlu merasa ingin membawanya pulang. Karena penonton tidak membutuhkan badut. Orang-orang membutuhkan banyak hal: perut yang kenyang, kulkas yang selalu terisi makanan, rumah yang tenang dan tidak bocor ketika hujan, tissue toilet yang selalu terisi ketika sedang buar air besar, kran yang selalu mengeluarkan air ketika diputar, tagihan-tagihan yang selalu terbayar, dekapan hangat ketika dingin menyengat, hiburan, kenyamanan, kestabilan. Mereka tidak membutuhkan badut, itu cuma salah satu dari hiburan. Badut yang membutuhkan penonton, karena penonton yang membuat badut ada.
Penonton menikmati kekonyolan badut karena kebetulan badut ada di sana ketika mereka lewat. Jika sudah lelah ketawa, mereka juga akan beranjak pergi meninggalkan badut yang hanya bisa memandang dalam diam tanpa mampu berkata “jangan pergi…tetaplah di sini….”.
Tapi badut yang ini saat ini tak pernah peduli pada semua penonton yang pergi. Karena ketika sudah sepi, dia selalu bisa membuka topeng-tersenyumnya, menanggalkan semua malunya, dan berbicara sambil sesungukan tentang apa saja tanpa takut salah sikap maupun kata. Badut ini bisa menjadi manusia lemah yang sebenarnya dan meringkuk nyaman dalam peluk lembut seorang penonton setianya yang dulu katanya tak bakal pergi. Seorang bidadari.
.
bandara Soekarno-Hatta, 11112009 19:26
Silahkan kalau mau ikutan komentar dan diskusi di sini, atau cuma mau subscribe ke RSS website ini.
Cas Cis Cus
bertahun-tahun (dulu) aku penasaran ma initialmu pen… inikah arti sebenarnya..?
Dulu sempat berpikir, knapa kok pake ‘subadut’ padahal “Tri Effendi” jauh dari kata badut. apa emang temenku yg satu ini sedang berusaha menutupi dirinya..?
ehmm tp aku emang ga mau menggali terlalu dalam dan aku anggep itu hanya sekedar initial.
Nice.. and ijin copas
~van~ –> 00410100143 ^^
pendi bilang: Mungkin Yud,…dan monggo copas Yud.
lho, jadi subadut itu “pen” ? alias “wong ganteng”? alias tri effendi?
anyway malam2 di bandara jakarta lagi ngapain mas?
katanya pendi: di jakarta lagi pengen nyoba busway….maklum dari desa..



saya ibgib tahu bagi mana yah perasaan badut ketika itu terjadi