Maaf (I)

Sat, 8 May 2004 – 3:08 pm -

cinta semakin terasa hanya sebuah kebiasaan
seperti saat kita makan,
garpu di kiri sendok di kanan

bertemu menjadi kewajiban rutin
bukan karena kebutuhan batin
kau memang rajin menelepon setelah kuminta

aku mau yang sempurna
percuma kalau hanya yang biasa-biasa saja
walau di luar terlihat indah tapi di dalam hampa

aku memilih yang luar biasa
atau minimal yang tak biasa
biar bisa ku mengerti bedanya kosong dengan bahagia

“tak ada yang sempurna!”, katamu
ah, apalah yang kau tahu
tentang masa lalu dan dendam yang membentukku

aku pernah merasakan yang tak biasa
(bukan denganmu, maafkan aku)
dan aku ingin mengulanginya

ingin kupercaya lagi pada mimpi
karena mimpi membawa semangat dan harapan
yang belum pernah bisa kau berikan

akan kukejar semua mimpi yang tertunda
walaupun nantinya tak menjadi nyata
setidaknya aku pernah berusaha

sebenarnya ini cuma rasa lelah berjalan tanpa arah
dengan luka di kaki yang semakin bernanah
aku rindu rasa nyaman ketika di “rumah”

maafkan mimpiku,
yang membuatku kembali membatu
dan tak mempedulikan air matamu

aku hanya ingin percaya lagi pada mimpi
agar tidur malamku tak lagi sepi
dan aku bisa tersenyum ketika aku mati

kost Semampir, 8 Mei 2004

Send post as PDF to PDF Creator | PDF Converter | PDF Software | Create PDF

Popularity: 11% [?]

Silahkan Komentar...

Kalau belum punya icon Gravatar, bisa bikin dulu di sini.