Jam 2:03 dini hari, Athens, Ohio, Minggu 23 November 2003
Tabik Tri:
Meski lo bilang lo nggak bisa ngarang, ternyata lo bisa juga nulis surat panjang buat gue. Thanks. Surat lo penting buat gue. Apalagi, selama ini ngomong pun kita jarang. Kadang gue berpikir kenapa, semenjak kita tumbuh remaja, hubungan kita menjadi jadi aneh. Padahal dulu, mungkin lo masih inget, waktu lo, Eddy, dan gue masih bocah di Jakarta, kita bertiga sangat akrab. Meski sering cakar-cakaran, pada dasarnya kita akrab. Dulu, di Kamar I, rumah kos Gang Buaya I, Jakarta, kita sering main hujan-hujanan bareng si Ujang, atau di jalanan kita main mobil-mobilan yang kita seret pakai benang yang diiket di sebatang lidi.
Salah satu masa indah adalah ketika di Jakarta Ayah mengajak kita bertiga jalan-jalan naek bis kota: lo, Eddy, dan gue, sementara Ibu memasak sendiri di rumah kos. Waktu itu, meski sudah tua, Ayah masih kekar dan gagah. Masih kuat lari-lari ngejar bis kota bersama kita. Potongan Ayah masih potongan serdadu. Yang gue seneng dari Ayah adalah bahwa dia orangnya pendiam, tidak cerewet kayak Ibu. Sekali Ayah ngomong dan ngasih nasihat, dulu kita semua jadi segan dan hormat. Yang bikin gue senang adalah bila Ayah datang, Ibu jadi nggak marah-marah lagi.
Ya, dulu gue sangat takut sama Ibu. Tahu nggak, waktu lo masih bayi di Dinoyo, Malang, dan Ayah jauh di Jakarta dan lama nggak datang-datang, Ibu jadi stess berat sehingga hanya karena aku lupa melaksanakan perintah Ibu untuk bersih-bersih sepatu, Ibu jadi ngamuk dan melempari aku dengan sepatu-sepatu. Aku bisa berkelit dengan lincah menghindari lemparan sepatu, tetapi akibatnya kaca jendela-jendela di ruang tamu rumah kontrakan kita jadi pecah berantakan. Sehabis marah besar, Ibu sering menyesal, nangis, dan baik kembali. Dulu aku nggak ngerti kenapa Ibu bisa kayak giitu. Hanya sekarang, setelah aku sendiri berumah tangga aku baru bisa ngerti.
Ya, dulu waktu masih kanak-kanak kita adalah tiga bersodara yang sangat akrab. Baru ketika beranjak remaja, kita jadi terasing satu dari yang lain. Mungkin, kita mulai sadar tentang “anehnya” atau “sakitnya” kita punya keluarga. Lantas, kita jadi terasing satu dari yang lain, asyik dengan rasa sakit kita masing-masing. Ibu sibuk berantem dengan Ayah menuntut Ayah untuk terus-terang sama istri pertamanya. Dalam kepusingannya, Ibu sering melampiaskan marah kepada kita bertiga. Sementara itu, keluarga kita yang berantakan waktu itu membuat aku sering kecewa kepada Ibu dan Ayah. Aku mencari pelampiasan dengan membaca banyak kitab filsafat dengan maksud mencari jawab kenapa sih manusia, dan aku sendiri, menderita dalam kehidupan ini. Agak tertolong juga aku. Meski keluarga kita waktu itu tetap “sakit”, aku menemukan pengetahuan tentang sebab-sebab umum kenapa orang bisa menderita. Agak melegakan hati juga.
Tri, waktu Ayah sakit aku sempat juga memendam rasa jengkel kepada Ayah. Tapi ketika melihat dia sakit dan berada dalam posisi yang mengenaskan sebagai laki-laki, aku jadi tidak tega. Jelek-jelek juga dia itu Ayahku. Waktu itu aku mulai paham betapa seorang laki-laki bisa mengambil pilihan yang keliru sehingga menyakiti dirinya sendiri dan orang lain. Waktu aku menjaga Ayah di rumah sakit aku jatuh kasihan kepada dia. Dia jadi tua, lemah, dan rapuh. Tapi dari pancaran matanya aku tahu dia merasa bersalah dan yang lebih penting lagi: sebetulnya dia sayang pada Ibu, kamu, Eddy, Putri dan aku. Hanya saja, dia tidak mampu mengungkapkan rasa sayang itu sebagaimana seharusnya seorang ayah yang sempurna. Dia juga tak mampu mengungkapkan rasa sayang itu sesuai dengan kemauan kita anak-anaknya. Jangankan untuk memperhatikan kita, lha wong memperhatikan badannya sendiri saja tidak sempat. Waktunya habis di kantor di Driyorejo. Berangkat jam 6 pagi pulang jam 8 malam. Badannya yang tegap itu pun akhirnya dihancurkan oleh beban masalah. Kematian juga akhirnya yang membebaskan Ayah dari beban psikologis mahaberat itu. Yang membuat aku salut adalah bahwa Ayah tidak pernah coba bunuh diri. Dia tabah. Dia bertahan di depan kehidupan yang mencekik seperti itu. Bertahan sampai akhir. Aku salut.
Akhirnya, dalam hati, aku memaafkan Ayah dan aku berusaha untuk menunjukkan kasih sayang dan hormatku kepada dia sebagai seorang anak. Aku nggak lagi perduli dengan apa yang bisa Ayah kasih kepadaku, tapi aku coba kasih apa yang aku bisa kasih kepadanya. Sambil dalam hati, waktu aku menyisir rambut Ayah, memijati badan dia, ngedorong kursi roda dia ke kamar mandi, menyuap nasi pecel ke mulutnya di waktu sarapan pagi, aku berdoa—meskipun waktu itu aku sudah menjadi seorang atheist—semoga Ayah bisa hidup lama, sampai tua sekali, sampai aku jadi orang dan sempat memuliakan dia, membelikan hadiah-hadiah kecil yang dia senangi. Misalnya sebuah arloji. (Ya waktu masih SMA aku dulu pernah punya angan-angan untuk membelikan Ayah sebuah arloji. Sampai sekarang nggak kesampaian.)
Wah… betapa aku terpukul ketika ia meninggal dunia. Kecewa sekali aku pada Tuhan waktu itu. Gimana kagak? Justru ketika Ayah sakit, aku ada kesempatan untuk berdekatan lagi dengan Ayah seperti waktu kecil dulu. Tapi setelah berdamai, Ayah direnggut maut. Terpukul aku.
Kamu masih ingat, Tri, magrib itu ketika aku datang ke rumah Semolowaru membawa kabar tentang meninggalnya Ayah? Kulihat kamu tiba-tiba menangis mendengar kabar dariku bahwa Ayah sudah tidak ada. Pada waktu itu aku tiba-tiba menjadi yakin kamu pun ternyata punya rasa sayang kepada Ayah. Justru rasa sayang itu yang membuat kamu membenci Ayah. Sebab, Ayah gagal mengimbangi rasa sayangmu kepada dia. Perhatian yang diberikan Ayah padamu tidak seimbang dengan rasa sayangmu kepada dia.
Pernahkah kamu, ketika jalan-jalan di luar kota, mengalami perasaan bahwa hidup ini sebetulnya merupakan sebuah urusan yang aneh? Yang sia-sia? Orang-orang pada menderita. Tapi nggak jelas untuk apa. Pada dasarnya nasib semua manusia di bumi ini sangat mengenaskan. Aku jadi kasihan. Rasa kasihanku jadi lebih besar dari rasa benciku kepada manusia. Itu yang bikin aku akhirnya tiba-tiba bisa memaafkan Ibu dan Ayah. Aku melihat bahwa seperti juga kamu, aku dan kita semua, Ibu dan Ayah sangat menderita dalam hidup mereka. Aku ingin berbuat sesuatu, meski sepele, untuk membikin mereka bahagia dan merasa hidup mereka berguna. Aku nggak tahu apakah aku berhasil menyenangkan Ayah. Tapi mudah-mudahan di akherat sana, kalau memang ada akherat, Ayah akan terkenang dengan saat-saat indah ketika aku merawat dia di rumah sakit William Booth, RKZ, dan RSAL.
Aku pergi jauh-jauh belajar ke Amerika juga untuk menyenangkan hati Ayah, Tri. Dulu waktu aku SMA, Ayah ingin salah satu anaknya ada yang kuliah di luar negeri dengan beasiswa. Mula-mula dia mengharapkan si Doddy, saudara tiri kita,. Tapi Doddy hanya bertahan tiga bulan di Belanda, tidak punya cukup semangat untuk berusaha keras cari beasiswa. Maka, harapannya jatuh ke pundakku. Baru sekarang ini setelah sembilan tahun Ayah pergi aku bisa memenuhi harapan dia. Ya, mudah-mudahan di akherat sana Ayah bisa memantau perkembangan kita.
Hidup ini aneh.
***
Sekian dulu, Tri, suratku. Jangan bosen-bosen untuk membaca suratku atau menulis surat buat aku.
Kakak elo,
Sony


Ikutan komentar??
(optional, kalau belum punya icon avatar sendiri bisa daftar di sini gratis)